Pernikahan

Holla,

Lemme share something on how I saw a marriage. Di jaman pertemanan saya sekarang sedang banyak yang memutuskan melangkah kedalam hidup baru : Pernikahan. Saya sendiri baru menikah. Memasuki gerbang pernikahan mematangkan konsep saya tentang masa depan. Setelah berada dalam pernikahan itu sendiri jelas lebih memperdalam konsep tentang keluarga dan masa depan.

Sering kali muncul pertanyaan-pertanyaan apakah pasangan kita sekarang benar-benar jodoh sepanjang hayat. Who knows?

Saya bersyukur perjalanan hubungan saya sangat membangun masing-masing individu di dalamnya, ya saya dan pasangan saya. Setiap manusia berbeda. Begitu pula yang terjadi dengan saya dan pasangan saya. Banyak perbedaan? PASTI! Karena kita datang dari latar belakang yang berbeda, latar belakang hidup, keluarga, dll.

Buat saya hal-hal dalam hubungan ada 2:
1. Hal-hal yang bersifat fisik atau sementara contohnya: kegemaran, kebiasaan, ketertarikan dll.
2. Hal-hal yang bersifat mental atau yang tidak terlihat contohnya: visi misi tentang masa depan, prinsip, dll
Mudah menemukan seseorang yang memiliki passion atau ketertarikan yang sama dengan kita, lain halnya menemukan seseorang yang memiliki visi-misi yang sama dengan kita. Hobby, kesenangan, kebiasaan mudah berubah dan mudah menyesuaikan. Kalau sudah bertemu seseorang yang secara visi-misi dan prinsip sama why must be bother dengan perbedaan-perbedaan fisik yang ada.

Setelah memutuskan untuk menikah, tingkat kesadaran terhadap hubungan dengan pasangan sangat tinggi. Mematangkan visi misi tentang menjadi suami, istri dan orang tua bagi anak-anak yang akan hadir nanti. Sekarang saya mengerti kenapa orang seringkali bertanya “sudah siap nikah belum? Kalau belum jangan dulu.” dan dijawab dengan jawaban-jawaban klise “kapan nikahnya kalau tunggu siap.”

Buat saya kesiapan menikah terletak di pribadi masing-masing dan pribadi pasangannya. Komunikasi yang terbuka dan intense serta kebesaran hati masing-masing untuk memahami dan memaklumi kelebihan dan kekurangan masing-masing tanpa penyangkalan-penyangkalan menjadi hal yang mendorong keterbukaan dengan pasangan. Malu-malu untuk berbicara dengan pasangan tidak akan menyelesaikan masalah justru menunda penyelesaian masalah yang ada.

Kalau ditanya apakah saya siap menikah. Jawabannya tentu saja saya SIAP. Begitu juga dengan pasangan.

“Sering-seringlah bertukar pikiran dengan mereka yang lebih tua dan sudah menikah cukup lama, mungkin belum tentu kata-kata bijak yang keluar, tapi akan selalu ada pelajaran berharga dari setiap cerita manusia.”

Kamu sudah siap menikah?

.Cheers.

::credit picture ::google-we got married::

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s