Pribadi Yang Cerdas

Selasa sore dalam perjalanan pulang ke Bogor.

Pernahkah kamu ditodong pertanyaan “Kapan kuliah lulus?”, “Kapan kerja?”, “Kemana pacarnya? Kenalin dong”, “Kapan nikah? Pacaran jangan lama-lama”, “Kapan punya anak?” serangkai dengan alasan-alasan terkemuka “Jangan kelamaan kuliah nanti jadi mahasiswa abadi”, “Kapan nikahnya kalau mau tunggu siap” atau “Kapan mau punya anaknya kalau mau tunggu settle

Saya pun seringkali diberondong pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu saja. Saya tahu tak ada niat jahat dari pertanyaan-pertanyaan itu. Bentuk cinta orang-orang dalam bentuk yang itu-itu saja.

Menjadi pribadi yang cerdas berarti menjadi pribadi yang mempersiapkan diri dengan matang atas pilihan-pilihan yang ada di hidupnya.

Ketika seseorang memilih untuk belajar lebih lama saat kuliah kita tidak pernah tau berapa banyak pelajaran yang dia sedang kejar. Pelajaran ga melulu tentang akademis ga melulu tentang nilai A tetapi juga nilai B, C, D, E bahkan F. Bahwa pelajaran juga adalah setiap hari bertemu dan mengejar-ngejar pembimbing untuk konsultasi, mendapati draft hasil penelitian yang penuh tinta-tinta merah, memecahkan tabung di laboratorium, menghilangkan secara tidak sengaja data hasil penelitian, atau berorganisasi dengan bermacam-macam unit kegiatan yang memungkinkan bertemu banyak kepala. Kuliah lebih lama belum tentu menunjukkan seseorang malas, dia sedang konsentrasi penuh dengan dirinya sendiri sebelum keluar ke dunia nyata. Dunia kerja.

Merubah pertanyaan dari sekadar “Kapan lulus kuliah?” menjadi “Ada apa saja di kuliah?” membuat seseorang lebih bisa menggambarkan tentang pelajaran apa yang sedang dia siapkan untuk masa depan setelah kuliah usai.

Pertanyaan “Kapan nikah?” seringkali jadi hal yang paling membosankan untuk didengar apalagi untuk kaum perempuan yang sudah punya pacar. “Kapan nikahnya kalau nunggu siap, nikah saja dulu nanti juga siap” begitu penjelasannya ketika diberikan jawaban “Nanti kalau sudah siap”. Anak jaman sekarang mungkin akan banyak yang menjawab “may… maybe yes maybe no”

Seseorang akan menikah sesuai waktunya. Waktu yang memang sudah ditentukan oleh-Nya. Waktu itu akan datang. Buat saya, menyiapkan pribadi yang SIAP saat memutuskan menikah justru lebih penting. Adalah tugas orang tua menyiapkan pribadi anak-anaknya menjadi yang terbaik untuk memiliki kesiapan melaksanakan tanggung jawab masa depan setelah menikah. Pribadi yang siap memiliki pemahaman tentang arti menikah, visi misi menikah dan memiliki kesiapan untuk merasakan tanggung jawab itu. Buat saya, setelah menikah bukan lagi belajar menjadi siap tapi praktek. So, sudah siap menikah kan kamu?

Bagi mereka yang menikah kuping tidak akan serta merta istirahat dari tuntutan lingkungan. Pertanyaan tentang “Kapan punya anak?” yang mungkin berlanjut menjadi “Kapan mau tambah anak ke 2 ? ke 3? Ke 4?” Buat saya pernikahan tidak berarti harus cepat-cepat punya anak. Kesiapan memiliki anak sama besarnya saat memutuskan menikah. Saya memang seorang multitasker tapi saya percaya melakukan dua hal yang sama-sama besar akan menghasilkan hasil yang tidak terbaik. Saya tidak menunda untuk punya anak tapi saya berencana untuk belum memiliki anak awal-awal menikah. Seringkali yang jadi alasan menunda anak karena belum settle secara financial. Buat saya bukan itu alasannya, alasan saya sederhana karena saya belum siap dan masih senang pacaran.

Tidak bermaksud menyamaratakan ibu-ibu muda karena setiap orang berbeda. Saya sering membaca status galau para ibu-ibu muda tentang bagaimana rewel anaknya yang tidak mau makan, tidak bisa makan sayur, tidak mau tidur, marah tanpa alasan yang jelas atau mereka yang bosan hanya dirumah terus tanpa bisa kemana-mana atau yang sebaliknya mereka yang masih keluar kesana kemari untuk hal yang tidak signifikan. Saya memang belum merasakan punya anak, tapi buat saya itu pelajaran penting untuk menjadi pribadi yang siap memiliki anak.

Satu cerita, sang bapak memiliki kebiasaan memukul pintu ketika marah saat istrinya sedang mengandung anaknya. Tahu apa yang terjadi dengan anaknya setelah lahir. Memiliki kebiasaan yang sama dengan bapaknya saat marah dia memukul pintu. Apa yang anak itu tau sampai bisa melampiaskan amarah dengan pintu. Saya jadi mengerti anak adalah ikatan batin bapak dan ibunya yang memungkinkan anak tsb memiliki sifat dasar dari kedua orang tuanya. Bukan hanya sang ibu yang harus mengontrol diri tapi juga sang bapak. Kebayang kan apa yang terjadi saat ada anak yang lahir kemudian menjadi anak yang tidak menurut perkataan orang tua atau rewel atau apapun itu. Siapa yang bisa jelaskan apa yang orang tuanya lakukan saat sang ibu mengandung?

Saya belajar jika anak sudah di didik sejak dalam kandungan. Cinta yang tulus sejak anak dalam kandungan sampai mereka lahir dan tumbuh besar. Anak tidak mengerti orang tuanya bagaimana tapi orang tua (yang siap) pasti mengerti bagaimana anaknya. Sehingga saat sang anak rewel buat amarah yang keluar melainkan cinta untuk memberikan kenyamanan yang sang anak butuhkan.

Buat saya pribadi yang cerdas adalah pribadi yang siap atas segala keputusan yang diambil untuk hidupnya dan menjalankannya dengan penuh tanggung jawab. Manusia berencana اَللّهُ SWT yang menentukan jawabannya.

Semoga kita menjadi pribadi yang cerdas.

.Cheers.

Advertisements

One thought on “Pribadi Yang Cerdas”

  1. Pemahaman yang ok. Kesiapan untuk menghadapi hal yang besar dalam hidup kita kadang tidak bisa dimengerti oleh orang lain disekitar kita. Bahkan oleh pasangan kita sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s