Ketidakadilan

Sekali ini aku marah dengan pemerintah. Dengan negaraku. Dengan orang tua anak itu. Dengan diriku sendiri.

Aku tersentak pada seorang anak (sekitar umur belasan) yang berusaha tidur beralaskan kardus. Di pojokan pintu stasiun kereta. Dingin. Saat itu Bogor sedang dingin. Masih jelas di pikiranku. Kakinya hitam dan kurus. Bajunya lusuh. Diam dan tanpa tenaga.

Aku tidak tahu namanya siapa. Dia tidak meminta-minta hanya berbaring untuk tidur. Aku berpikir dia sepertinya sakit. Air mata rasanya akan banyak meluncur, dia mengingatkanku pada adikku.

Aku sangat terganggu dengan pemandangan itu. Sadar tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah keadaan anak itu. Pikiran mulai mempertanyakan banyak hal.

Dimana ibu nya? Dimana bapaknya? Dimana orang tuanya? DIMANA?

Kenapa dia tidur disana? Kenapa tidak ada yang memperhatikannya? Kenapa tidak ada yang mengklaim dirinya?

Apa yang ada dipikiran anak itu ya? Sudah sendirian, mungkin belum makan dan lapar, mungkin sakit, dan tertidur beralaskan kardus.

Aku tidak tahu bagaimana hidup membuat seorang anak kecil harus mengalami hal sebesar itu.

Aku marah dengan orang tuanya. Aku tidak mengerti kemana orang tuanya. Tak merasakah memiliki tanggung jawab? Apa yang akan kamu pertanggungjawabkan di hari akhir?

Aku marah dengan negaraku. Pemerintahku. Masih jelas diingat UUD pasal 34 ayat (1)bahwa Orang miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Itu BOHONG! Kalau negaraku jujur aku tidak perlu melihat anak-anak terlantar tidak terurus. Aku akan melihat mereka sekolah dan bukannya cari uang. Aku akan melihat mereka punya penghidupan yang layak sesuai usia mereka. Kalau negaraku jujur tidak akan ada tikus yang makan hak sesama. Padahal negaraku negara dengan agama.

Aku marah pada diriku karena tidak dapat berbuat banyak untuknya. Hanya bisa berdoa semoga hidupnya bisa lebih baik. Disembuhkan luka-luka batinnya dan dipenuhkan dengan cinta orang-orang terdekatnya. Aku berdoa supaya ada yang menemukan dan menampungnya.

Dear negaraku, berikan keadilan bukan padaku tapi kepada mereka yang kurang beruntung dari aku. Penuhi saja janjimu sebelum membuat janji baru lagi. Penuhi saja janjimu yang akan memelihara orang miskin dan anak-anak terlantar.

. .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s