Memudahkan Hidup.

Apa itu hidup? Bagaimana itu hidup? Setiap manusia punya definisi masing-masing begitupun dengan saya. Dari kehidupan saya belajar menjadi seseorang yang mudah-mudahan selalu lebih baik. Harus.

Seringkali tanpa sadar (ataupun sadar) kita berkeluh kesah tentang hidup yang tidak mudah. Buat saya, hidup ga melulu tentang kesusahan atau kemudahan, hal-hal yang pasti akan terjadi. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tapi seperti kata pepatah apa yang kita tanam itu yang kita tuai, saya percaya setiap kita berbuat baik hasilnya juga untuk kita sendiri begitu juga ketika kita berbuat jahat hasilnya juga untuk kita sendiri.

Disadari atau tidak kita seringkali kita mengikuti nafsu diri sendiri. Nafsu untuk mementingkan diri sendiri sehingga menyusahlan orang lain. Coba kita pikirkan seberapa sering kita menyusahkan orang lain?

Contoh sederhana tentang kemacetan. Kemacetan di Jakarta atau daerah lain selain karena memang volume kendaraan yang melonjak karena rasa pribadi-pribadinya yang penting naik mobil nyaman dari pada naik angkutan umum-padahal dengan naik angkutan umum kita membantu orang lain mendapatkan rezeki-tetapi juga karena rasa ingin cepat-cepat sampai tujuan. Seringkali saya berujar dengan pasangan saya, macet disini pasti sepele karena jalanan yang tiba-tiba menyempit dari 3 jalur menjadi 2 jalur atau kendaraan yang tidak mau mengalah di pertigaan atau perempatan jalan. Bayangan keinginan orang-orang ingin cepat lepas dari kemacetan jelas sekali dengan suara klakson yang kian lama kian sering dan kian panjang. Pernah terpikir kalau setiap individu memberikan jalan saja bagi 1 kendaraan untuk lewat dan itu tidak memakan lebih dari 1 menit? Saya rasa tidak ada kemacetan yang berular dan tak terurai.

Atau yang di pekerjaan atau di sekolahnya selalu menyusahkan sesama, tidak memberikan informasi yang benar, melemparkan tanggung jawab yang seharusnya tanggung jawabnya, menuntut hak-hak tanpa memenuhi kewajibannya, meminta tolong/menyuruh terus menerus, mengambil yang bukan haknya. Sikut kiri sikut kanan mungkin terjadi mengingat persaingan dalam pekerjaan yang menuntut performa seseorang terlihat baik tapi bukan berarti cara yang baik dengan mengerahkan segala cara yang justru mengorbankan dan menginjak-injak orang lain.

Mari berpikir terbalik, kita tentu akan senang bertemu dengan orang yang baik yang tidak meyusahkan kita. Begitu juga orang lain akan senang dengan orang yang tidak menyusahkan orang lain. Tolong menolong boleh tapi yang terus menerus tanpa memperhatikan kondisi yang diminta tolong apa namanya kalau bukan menyusahkan orang lain.

Mau hidup susah? Gampang. Susahkan saja orang lain. Maka hidupmu pasti akan susah. Sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan hasilnya tetap kebaikan.

What goes around comes around.

Ps: Ini tidak berlaku bagi yang mau jalan pintas. Memudahkan hidup orang lain dan diri sendiri dengan cara korupsi.

Cheers.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s