Sudah Hamil Belum?

Begitulah kira-kira pertanyaan yang kerap kali terdengar di telinga saya. Dan inilah jawaban singkat saya: belum berencana hamil.

Jawaban singkat saya yang mungkin tidak memuaskan hati si penanya membuat saya diberondong pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan lanjutan. Kenapa belum mau hamil? Kapan mau hamil? Memang tidak mau punya anak? Jangan lama-lama kosongnya nanti susah hamil atau jangan ketuaan biar jarak sama anaknya dekat. Lalu jawaban yang akan berikan: masih mau kerja, masih mau menikmati hidup. Jawaban jujur untuk menghindari pembicaraan lebih lanjut. Agaknya jawaban singkat saya cukup dapat diterima pendengar walau mungkin didalam hati penanya masih penuh keingintahuan akan alasan sebenarnya.

Beruntung saya cukup cerdas dengan tidak memberikan jawaban seperti ‘masih mau mengumpulkan uang‘ atau ‘nanti kalau lebih settle’ atau ‘mau beli rumah dulu‘ atau jawaban apapun yang berkorelasi dengan uang. Pun bukan berarti saya tidak pernah menjawab dengan jawaban ‘nanti mau ngumpulin uang dulu‘ atas pertanyaan ‘mau langsung punya anak?’, pertanyaan yang kerap ditanyakan sebelum saya menikah. Efek jawaban mengenai uang yang saya berikan membuat saya terjebak pada nasehat-nasehat yang saya rasa kurang sreg. Seperti ‘rezeki itu Allah SWT yang mengatur‘, ‘kalau menunggu settle kapan punya anaknya, bagaimana kalau tidak settle-settle’, ‘nanti pasti ada rezeki anak‘. Jawaban-jawaban demikian yang justru menjatuhkan rasa.

Saya mungkin mengerti mereka adalah yang telah lebih dahulu memiliki anak ketimbang saya. Tapi apa yang terjadi dengan hidup mereka belum tentu harus terjadi dalam hidup saya. Tapi hidup berkembang, ada hal-hal yang berubah. Di jaman saya, uang tak lagi menjadi barang yang mudah didapat dan sulit dikeluarkan. Menurut saya, ada baiknya berencana, mengelola uang untuk di masa datang. Tak bisa dipungkiri memiliki seorang anak memerlukan uang yang tidak sedikit. Kebutuhan seperti mempunyai rumah dan kendaraan, biaya melahirkan, biaya anak, biaya pendidikan dan lain-lain akan muncul dimasa depan. Saya kurang suka mengandalkan orang lain apalagi orang tua terutama dalam hal uang. Malu rasanya.

Apa yang terjadi dengan hidup mereka belum tentu harus terjadi dalam hidup saya.

Saya percaya semua rezeki datang dari Sang Pecipta. Memiliki anak pun rezeki. Saya percaya mau kosong 1 bulan, 1 tahun, 2 tahun,3 tahun atau bahkan 10 tahun kalau Allah SWT sudah berkehendak pasti akan memiliki anak di waktu yang memang tepat menurut-Nya. Saya percaya usia di tentukan oleh Sang Pencipta termasuk usia saat memiliki anak, tidak kah lelah hidup seperti dikejar-kejar usia?

Ketimbang menanyakan kesiapan mental seseorang untuk memiliki anak mayoritas orang senang menanyakan kenapa belum memiliki anak.

Ketimbang mempersiapkan mental seseorang untuk memiliki anak mayoritas orang senang menakut-nakuti kalau tidak langsung memiliki anak nanti akan susah memiliki anak.

Ketimbang men-support pilihan seseorang untuk belum berencana hamil mayoritas orang senang memberikan masukan-masukan yang justru bukannya membangun tetapi menjatuhkan.

Setiap orang memiliki rencananya masing-masing. Setiap orang memiliki takdirnya masing-masing. 

Manusia boleh berencana, Allah SWT yang menentukan.

.Cheers.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s