Hubungan Cerdas dan Menjadi Monogami

Saya senang dengan artikel ini jadi saya copy ke blog saya…

London, Lelaki cerdas alias yang memiliki tingkat IQ tinggi jarang membohongi istrinya dan lebih suka memilih monogami. Sebuah penelitian baru menunjukkan lelaki cerdas lebih suka hubungan seks yang eksklusif dengan satu orang.

Peneliti Inggris meneliti perilaku lelaki cerdas ini yang menempatkan monogami dan hubungan seks yang eksklusif. Perilaku ini berbeda dengan teman-teman yang seumuran mereka tapi memiliki tingkat kecerdasan yang kurang.

Tapi hubungan antara moralitas perilaku seks konvensional dan tingkat intelijen tidak tercermin pada wanita. Peneliti tidak menemukan bukti bahwa perempuan yang lebih cerdas dalam populasi umum akan lebih setia.

Penelitian pola-pola perilaku tersebut dilakukan oleh Dr Satoshi Kanazawa dari London School of Economics and Political Science yang hasilnya telah dipublikasikan dalam jurnal Social Psychology Quarterly edisi Maret.

Dalam penelitiannya Dr Kanazawa menganalisa dua survei utama di AS yang berhubungan dengan perilaku sosial dan tingkat IQ yang telah dilakukan terhadap ribuan partisipan mulai remaja hingga orang dewasa.

“Sebagai analisis empiris, hasil penelitian menunjukkan bahwa lelaki dengan tingkat kecerdasan tinggi cenderung monogami dan menilai hubungan seksual adalah eksklusivitas dibandingkan dengan laki-laki yang kurang cerdas,” bunyi kesimpulan hasil penelitian Dr Kanazawa seperti dilansir dari Telegraph, Selasa (2/3/2010).

Dr Kanazawa mengklaim bahwa hubungan antara tingkat kecerdasan dan monogami oleh pria cerdas itu terkait dengan perkembangan evolusi perilaku yang terjadi.

Dalam evolusi perilaku tersebut, dunia moderen memandang tidak ada lagi keuntungan memiliki hubungan seksual dengan banyak mitra. Dan orang-orang cerdas mampu melepaskan beban psikologis tersebut dengan mengadopsi cara-cara berperilaku yang baru.

Sebelumnya, Profesor Martha Bailey dan Bita Amani dari Queen’s University menyebutkan bahwa istri dan anak akan menjadi korban dalam rumah tangga kerika seorang suami memilih untuk melakukan poligami.

“Mereka lebih banyak mengalami depresi dan stres karena perasaan cemburu. Mereka juga cenderung menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga,” ujar Bailey.

Sementara suami yang melakukan poligami mendapat pemenuhan seks yang baik, istri yang dipoligami justru menderita karena harus menghadapi kenyataan suaminya berbagi seks dengan wanita lain dan kemungkinan penyakit menular seksual.

Ketika seorang wanita depresi, pola pengasuhan anaknya pun menjadi kacau. Dan itu akan memberi dampak negatif bagi anak. Anak juga berisiko mengalami trauma dan dikucilkan oleh teman-temannya. Perilaku mereka pun menurut peneliti lebih sulit terkontrol karena peran ayah menjadi berkurang.

sumber  http://health.detik.com/read/2010/03/02/081512/1309023/766/lelaki-cerdas-lebih-suka-monogami

>Selamat Membaca<

Salah atau Benar?

Saya senang bisa melihat kehidupan orang lain dan membacanya, memahaminya, ya semacam analisa seperti itu. Saya ga pernah tau kenapa bisa jatuh cinta dengan hubungan antar sesama dan mempelajari hubungan antar sesama itu padahal saya bukan orang psikologi dan bukan orang yang mudah bergaul. Atau lebih tepatnya juga saya membatasi diri bergaul karena saya merasa orang-orang memiliki beragam penerimaan akan keberadaan seseorang. Saya merasa pemikiran saya berbeda dan mungkin sedikit tajam untuk beberapa orang.

Setiap orang hidup dengan beragam masalah dan solusinya. Tapi saya paling sebel klo orang men-judge seenaknya. Saya ga mau munafik, saya juga menjudge orang tapi saya ga membiarkan orang itu tau dengan apa yang saya pikirkan atau apa yang saya judge. Saya gag mau orang itu merasakan keanehan dengan pikiran2 saya. Dan menurut saya, saya ga berdosa karena saya simpan pikiran itu untuk saya sendiri. Ga ada orang yang ingin hidup disalahkan atas apa yang dia putuskan di hidupnya, dan bukan membenarkan yang salah. Ga ada orang yang mau dicibir atau setiap melihat orang-orang tersebut akan menyinyir atas apa yang dia putuskan. Hanya saja kata salah seperti momok menakutkan bagi sebagian orang terutama saya.

Ingat, setiap orang diberikan permasalahan masing-masing sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bagaimana dia menjalankannya, bagaimana dia memutuskannya, bagaimana dia ber-deal dengan apa yang dia hadapi kita ga bisa sekonyong-konyong menilai apa yang dilakukan seseorang itu salah atau benar. Kita memang hidup berkomunitas, komunitas tersebut yang terkadang menilai sesuatu benar atau salah. Kalau sesuai dengan komunitas syukur-syukur ga dicibir. Tapi saat salah alangkah baiknya kita ga menghakimi orang itu. Setiap permasalahan merupakan titik balik untuk seseorang. Setiap orang punya waktunya masing-masing untuk berkembang dan menjalani hidup yang lebih baik. Alangkah bijaknya kita lihat saja dari jauh, ketika terlalu jauh cukup diingatkan saja, ketika orang itu jatuh-tunggu saja sampai dia bertanya tentang apa yang dia butuhkan, ketika orang itu benar jaga saja orang itu agar terus benar. Kita tidak bisa memaksakan kehendak untuk mengajari orang lain maupun mengubah kehidupan atau pun pribadi orang lain. Karena ketika sudah waktunya orang tersebut akan merubahnya sesuai dengan keinginannya sendiri dan pasti hasilnya akan lebih indah.

Selamat mencoba!

Cheers,

Kota dengan Polusi dan Macet

Hari ini saya bukan mau mengeluh tentang Jakarta tapi sharing bagaimana menjalani hidup di Jakarta.

Pernah ga sih kita dengar klo Jakarta macet karena volume kendaraan nya semakin meningkat sedangkan ukuran jalannya tidak bertambah atau mungkin berkurang jika dihitung dengan berapa banyak orang yang sembarangan parkir di pinggir jalan atau digunakan pedagang kaki lima untuk berjualan?

Saya rasa pernah. Setidaknya saya pernah baca dan pernah mendengar.

Dan sering ga sih mendengar kalo orang-orang menyalahkan pemerintah karena fasilitas angkutan umum belum memadai. Semisal, stasiun kereta api yang seadanya, jadwal kereta api yang masih sesuka jidatnya mogok atau bermasalah dengan mesin klo hujan, belum lagi desek-desekan klo naik kereta mau itu kereta ekonomi, ekonomi AC maupun Express sekalipun, jumlah bis transjakarta yang sedikit belum lagi harus umpel-umpelan ?

Saya yakin sering. Setidaknya saya sering mendengar.

Seberapa sering kalian mau menikmati jalan di trotoar (itu juga kalo ada) menuju kantor atau tempat yang jaraknya relatif mudah dijangkau dengan berjalan kaki tanpa mengeluh akan polusi dari kendaraan yang lewat?

Saya yakin ga banyak yang melakukannya dan tidak mengeluh. Setidaknya itu yang saya perhatikan.

Dan oleh karena itu, sebagian besar dari mereka yang memilih harus tinggal atau bekerja di Jakarta datang dan pergi menggunakan kendaraan pribadi untuk menghindari yang namanya panas, debu, polusi, asap kendaraan, ketidaknyamanan, dan cape.

Dan karena begitu banyak alasan yang sama, orang-orang menyalahkan orang lain bukan diri sendiri. Memang paling enak menyalahkan orang lain.

Pernah dengar kalo anggota dewan adalah cerminan bangsa, kalo pas rapat Pansus Century mereka berteriak, dan berantem, dan apalah yang disebut orang-orang. Kenapa musti mereka kita salahkan. Biar itu jadi cerminan untuk kita bahwa kita JANGAN seperti itu, JANGAN seperti mereka. Cermin memperbaiki diri sehingga memperbaiki negara ini.

Hal yang sama, kita menyalahkan pemerintah, karena mereka lah yang harus melayani kita. Karena kita bayar pajak, karena kita membayar mereka. Emang semua orang di negara ini punya kesadaran bayar pajak? Memangnya negara itu pelayan kita? Ga rela kalau duid yang kita bayar untuk pajak dipakai oknum-oknum yang cuma mengandalkan nafsu punya uang banyak?

Negara tidak melayani warganya tapi warganya melayani negaranya. Kalau semua orang punya pemikiran yang sama Indonesia sudah pasti hebat.

Kita harus jadi contoh untuk yang kita bilang tidak layak di contoh. Contoh menjadi orang yang menghargai fasilitas umum walaupun fasilitasnya seadanya. Contoh menjadi orang yang menghargai waktu dengan tidak menjadikan macet sebagai alasan. Contoh orang yang mau menggunakan Transjakarta, Kereta Api, Kopaja, Metromini tanpa harus mengeluh mengenai jadwalnya, macetnya, panasnya. Contoh orang yang tidak korupsi baik waktu khususnya buat mahasiswa yang suka demo, uang umumnya untuk yang diperbudak oleh uang, dan lainnya. Kita harus jadi contoh untuk apa yang kita inginkan, apa yang kita lakukan, apa yang kita harapkan. Kita jadi contoh untuk orang-orang berkedok diluar sana. Contoh bahwa kita lebih terhormat dari mereka karena kita melakukan sesuatu yang layak dicontoh bukan hanya meneriakkan kata-kata tanpa melakukan apa-apa

Kalau Kita bermimpi Indonesia punya sarana dan fasilitas transportasi yang baik. Hey, hanya pada saat sarana dan fasilitas transportasi itu baikkah kita akan menggunakannya? Sebenarnya yang harus dirubah bukan sarananya atau fasilitasnya, tapi KEMAUAN kita. Apakah kamu bisa jamin kalau sarana dan fasilitas transportasi sudah baik kamu akan menjaganya dan menggunakannya tanpa mengeluh?

Cheers,

Bahasa Indonesia

Hari ini saya baca beberapa artikel tentang bahasa Indonesia. Ternyata selama ini saya berpikiran sempit tentang bangsa saya sendiri. Tapi lebih baik seperti itu buat saya. Lebih baik saya mengakui kalau saya bukan orang dengan nasionalisme tinggi terhadap bangsa saya sendiri dari pada saya menunjukkan nasionalisme yang payah dan salah arah. Nope, tapi saya percaya nasionalisme saya ada di tindakan saya bukan di kata-kata saya apalagi di sikap anarkis.

Bahasa Indonesia. wew saya menganggap Bahasa ini sulit dan kaku dan ga romantis dan ga indah. Tapi percaya deh begitu di buat puisi sama bagusnya koq sama bahasa Inggris. Well, perlu saya akui saya ga cinta bahasa saya sendiri sampai akhirnya saya mengenyam masa satu tahun saya sebagai pendamping guru SD. Di situ saya merasa, saya adalah contoh, saya adalah model, saya adalah apa yang dilihat dan dirasa anak didik saya. Lalu saya belajar mengenal dan memahami bahasa ibu saya sendiri. dan hasilnya Luar Biasa. Sekarang walaupun bahasa ini sulit pernah kah kamu bersikeras klo kamu rela-rela bayar mahal dan meluangkan waktu untuk mempelajari bahasa Inggris atau bahasa negara lain contohnya Korea, Jepang, China yang notabene mungkin
lebih sulit secara penulisan dan pelafalan. Kenapa kita mau berusaha lebih buat bahasa negara lain bukan bahasa sendiri? Kita ga perlu selalu pake bahasa formal koq bisa juga informal yang penting tahu situasi dan kondisi.

Cukup mengagetkan buat saya begitu saya baca klo bahasa Indonesia jadi bahasa ke dua di negara Vietnam di tahun 2007 dan saya baru baca sekarang tahun 2010. Info ini kemana aja ya. Ini beberapa yang saya kutip dari beberapa sumber:

——————————————————————————–
Menurut PBB bahasa internasional sesuai catatan PBB pada tahun 2008

1-ENGLISH
2-ARABIC
3-MANDARIN
4-INDONESIA
5-PRANCIS
6-PORTUGAL
7-SPAIN
8-PORTUGAL

Sedangkan menurut Matt Mullenweg pemilik wordpress.com, “bahasa Inggris merupakan bahasa terbesar pertama di situs wordpress dan bahasa Indonesia menduduki urutan ke tiga setelah bahasa Spanyol.

Sandiaz Yudhasmara
KORAN ANAM INDONESIA
sumber: http://korananakindonesia.wordpress.com
——————————————————————————————————

Bahasa Indonesia, tersulit ke-3 Asia, ke-15 dunia!
Tanpa kita sadari ternyata Bahasa Indonesia adalah Bahasa tersulit ke 3 di Asia. Seharusnya kita sangat bangga akan hal ini.
Lebih lagi, ternyata bahasa Indonesia dipelajari di 45 negara lho!!. Walaupun dari segi yang lain Indonesia masih belum bisa berkata banyak, ternyata bahasa kita sudah lebih diakui dunia.

Banyaknya kebudayaan di Indonesia kerap kali membuat negeri-negeri lain iri dan ingin menelitinya, bahkan ada yang mengaku/mengklaim budaya itu miliknya (ga nyebut merek). Sebenarnya Indonesia bisa dibilang negara paling sempurna dari segi alam dan kebudayaannya. Semua ada di Indonesia, mulai dari ragam bahasa, budaya, kuliner, sumber daya alam, wisata, iklim, letak strategis, dll.

Berikut ada beberapa fakta bahwa kita harus bangga menggunakan bahasa Indonesia:

-Menurut Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Andri Hadi pada rapat pleno Kongres IX Bahasa Indonesia,

“Saat ini ada 45 negara yang ada mengajarkan bahasa Indonesia, seperti Australia, Amerika, Kanada, Vietnam, dan banyak negara lainnya,” katanya. Mengambil contoh Australia, Andri Hadi menjelaskan, di Australia bahasa Indonesia menjadi bahasa populer keempat. Ada sekitar 500 sekolah mengajarkan bahasa Indonesia. Bahkan, anak-anak kelas 6 sekolah dasar ada yang bisa berbahasa Indonesia”.

sumber: http://unik2x.blogspot.com/2010/04/bahasa-indonesia-tersulit-ke-3-asia-ke.html

————————————————————————————————-
Sekarang apalagi yang kurang dari bahasa ini kalau bukan nasionalisme kita dalam menggunakannya dalam keseharian. Jadi klo ketemu orang asing kita ga perlu malu klo ga bisa balas menjawab. Huft, ini juga mungkin salah satu budaya bangsa kali ya-orang Indonesia baik dan ramah jadi klo orang lain yang ga bisa bahasa kita, kita yang mau susah-susah belajar bahasa mereka.

Cheers,

Adat/Budaya Timur dan Barat

Mau bahas yang lagi hangat-hangatnya ah..tentang video sex yang baru-baru ini … It’s become international issue on twitter…

Wew, awalnya kaget banget, dan sempet berpikir koq bisa-bisanya ya artis yang notabene harus berperilaku secara lebih intelektual koq bisa bisanya dan mau maunya merekam adegan syur..ahaha bahasanya..klo soal sex itu sendiri saya gag mau menjudge itu urusan orang masing-masing. dan yang membuat saya terkejut adalah reaksi manusia-manusia di negara saya sendiri. Saya bingung. karena manusia-manusia itu bereaksi yang selalu ga sesuai dengan keadaan.

Menurut saya, sex atau free sex, atau sex before marriage or apapun itu berbau sex adalah salah satu bentuk implementasi yang terlalu baik dari kebiasaan suatu negara. Negara ini identitasnya hampir hilang.  Koq ya lucu gitu, kita sudah hampir kehilangan identitas akibat perilaku sendiri dan sekarang kita teriak-teriak atas identitas itu. Kalau saya bertanya balik sebenernya apa sih identitas penduduk di negara ini? Identitas bagaimana si yang kita seru-serukan kebudayaan timur? saya ga pernah tau apa yang dimaksud dengan adat timur. Timur keq barat keq yang membedakan cuma di peta dunia tapi kalo manusia saya rasa ga ada yang beda hanya kebiasaan . Menurut kalian apa?

Saya mencoba bertanya pada beberapa teman apa yang dimaksud dengan adat timur, jawaban mereka selalu bingung. Jika yang dimaksud dengan budaya timur adalah ramah-tamah, saling membantu, sopan santun, dan tertutup saya meragukan itu masih mendarah daging. Semakin kota itu canggih seperti hal-halnya Jakarta hal-hal seperti yang saya sebutkan tadi perlu dipertanyakan. Saya tidak bermaksud menilai atau memukul rata orang Indonesia, hanya untuk renungan saja.

Di Jakarta sendiri kita hidup dengan kekhawatiran akan kriminalitas, preman”, tukang palak lalu inikah yang kita sebut RAMAH TAMAH. Bisa dibayangkan berapa banyak orang yang akan membantu kalo orang kesusahan, syukur2 kita ga menghujat, sering kali kita hanya menonton begitu melihat ada ibu2 yang bawa belanjaan banyak, inikah yang di sebut saling membantu. Sopan santun, dimana saya bisa temukan anak yang sopan terhadap pembantunya atau orang dewasa yang tidak akan minta maaf terhadap orang yang lebih muda. Yang tertarik buat saya adalah TERTUTUP atau agamis, apanya yang budaya timur tertutup, kalau kita mau menilik di mal-mal banyak yang pakai hotpants, itu kah budaya kita yang tertutup, hati kita kah yang tertutup terhadap implementasi agama dan terbuka lebar untuk hal2 diitu.

Makanya saya gag terlalu kaget begitu banyak orang yang menghujat tentang video artis beradegan intim. buat saya hanya orang-orang munafik yang tiba2 berteriak2 “apakah negara kita sudah sebejat itu moralnya?” Saya tidak membenarkan apa yang dilakukan artis tersebut tapi Kita terlalu menutup mata dan tidak mau disalahkan atas ketidaksiapan mental pribadi-pribadi terhadap pengaruh globalisasi. Kita tidak percaya diri dengan identitas bangsa sendiri. Kita tidak dibiasakan menggunakan identitas bangsa sendiri. Kita TIDAK PERNAH bersama-sama menyemangati diri sendiri maupun orang lain menggunakan identitas bangsa sendiri. Kita terlalu sibuk memakai identitas bangsa lain yang kesempitan atau kelonggaran ketika digunakan. Lalu apa identitas bangsa kita? Adat Timur kah atau Adat Barat kah? Identitas bangsa Indonesia adalah Adat Indonesia yang diresapi dan dilakukan oleh setiap pribadi-pribadi di dalamnya yang selalu siap dengan perubahan-perubahan yang sesuai dengan pribadi-pribadi tersebut .

.Cheers.

Kekuatan Kata-kata

Ini terinspirasi dari orang terdekat sie.  bagaimana rangkaian kata-kata yang meluncur dari mulut a.k.a diucapkan atau ditulis seseorang bisa sangat mempengaruhi orang lain. Bukan bermaksud menyamai Mario Teguh atau siapa pun itu tapi begitulah beliau dengan contoh kata-kata kuatnya yang dapat menggugah hati banyak orang. Kata-kata bisa berupa apa saja dengan begitu banyak maksud.

Untuk contoh simpel, banyak di dunia ini orang yang ngomong ini dan itu tapi belum tentu memahami bagaimana setiap kata-kata yang keluar dari dirinya adalah pencerminan dirinya dan dapat mempengaruhi orang lain secara baik atauupun buruk. Dan kalau sudah mengerti ataupun memahami, belum tentu juga seseorang itu akan melaksanakan kata-katanya sendiri. Seperti kita tau teori tapi tidak mau praktek, tapi kehidupan adalah tentang praktek-bagaimana kita berfungsi bagi hidup kita sendiri, orang lain, agama dan bangsa sendiri.

saya sering bertemu dengan orang yang selalu memberikan motivasi bagi orang lain istilah kerennya motivator atau apakah itu, saya juga sempat mengikuti beberapa kali achievement motivation training, coaching atau apapun itu untuk membangkitkan kesadaran kita. Tapi biasanya saya tidak akan mudah tergugah jika orang yang berbicara itu saya rasa tidak melakukan. kasarnya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Mungkin banyak yang berpikir bagaimana kita tau seseorang itu melakukan apa yang dibicarakannya. Buat saya orang yang benar-benar melakukan apa yang dia katakan tercermin dari kata-kata yang keluar dari hati dan itu akan sampai ke hati saya. kalau tidak nyampe juga berarti ada yang eror di sistemnya, entah sistem pembicara tersebut atau pendengarnya. Mudah2an itu tidak terjadi dengan saya.

Buat saya kata-kata yang meluncur dari mulut sesorang termasuk saya bersifat seperti janji apabila itu berhubungan dengan seseorang berbeda jika ikut berkaitan dengan seseorang itu akan terlihat seperti cerita. Ketika kita berbicara dengan sesorang, membuat rencana, mengiyakan sesuatu dengan mudahnya kita bilang ok;iya;atau apalah itu, kadang kala orang tidak begitu menganggap serius tapi ada beberapa orang yang menganggapnya serius. Saya  termasuk yang memegang teguh kata-kata, jadi buat saya klo ada orang yang menggampangkan kata-katanya sendiri ga heran kalo mereka juga akan bertemu dengan orang-orang seperti itu. Saya suka sekali marah kalau teman2 saya telat, tau akhirnya, saya benar2 tidak pernah menganggap kata-kata mereka lagi. Memangnya apa yang bisa diharapkan dari orang-orang yang tidak melakukan apa yang diucapkannya?

Orang yang besar adalah orang yang bisa melakukan apa yang diucapkannya. Jika dia bilang hidup harus selalu berusaha, pasti dia sudah berusaha sampai dia menjadi orang besar. Jika dia bilang ingin kaya dengan menabung, pasti dia sudah menabung dan menggunakan uangnya dengan bijaksana. Jika dia bilang ingin pintar, pasti dia sudah belajar sehingga mengerti apa yang di pelajarinya. Jika dia bilang ingin menjadi manager, sudah pasti usaha yang dilakukan sebanyak usaha yang dibutuhkan untuk menjadi seorang manajer. Ucapkan lah sesuatu yang besar dan lakukan lah dengan usaha yang besar maka kita akan jadi orang besar. Tidak ada sesuatu yang besar terjadi dengan usaha yang kecil. Kalau sudah berusaha tapi Tuhan belum beri jawaban berarti menurut Tuhan usahanya kurang-dan itu hak prerogatif Tuhan mau menilai usaha kita besar atau kecil. Mulai lah berbicara dan melakukan apa yang diucapkan oleh diri kita sendiri untuk diri kita sendiri, jika untuk diri kita sendiri sudah pasti untuk orang lain akan lebih mudah. Selamat mencoba!

p.s pasti bertanya2 apakaha saya melakukan apa yang saya ucapkan. Ya, saya sedang di prosesnya. Ga mudah tapi menyenangkan buat saya..

.Cheers.

Save Earth

When it comes to SAVE THE EARTH

Everyone start to SHOUT!

I dunno how many of  it will last..

will it be only a SHOUT..

or

will it be [tons] A.C.T.I.O.N

u choose.they choose.i choose.

to campaign these.and.as an acknowledgment.

BasH!056

BasH!055

I was excited at the first sight with this degradable bags. That time, i accompanied my boyfriend to Veneta Warung Jambu to fill his printer-ink. Then taraaaaa i saw this bag. This degradable plastics bag is a REAL ACTION from Veneta. I love the way it works…It will degradable less than a YEAR.. Think how it will reduce our trash things..

How our people still in love with plastics..R.E.D.U.C.E. plastics NOW

.Cheers.

It’s Time.

It’s time i found
out myself blend bitter
nothing.blank.plain
more than just that
It’s time i found
out myself out
lost.fading.blind
[tons of chuckles]
It’s time i found
out myself dying
[again and more]

It’s time i found
out myself survive
my loneliness

every pulse faded
every blood trail choked
every in and out air

i can’t feel any
i can’t smell any
a can’t tell any
[take a deep breath]
[a deep awakening breath]
please.
It’s time i found
out myself harshly
repel the existence

It’s time i found
out myself happily
reject engagement
[tons of chukles]

It’s time i found
out myself (still) breathing

It’s time i found
out myself live in
emptiness.

7hia May 18 2009

Work Make You Sick.

Maybe work is making you sick …

(Matheos Viktor Messakh , THE JAKARTA POST , JAKARTA | Wed, 03/04/2009 9:58 AM |)

Health Office illness: A study has found that 50 percent of people who work in office buildings in Jakarta suffer from what is known as “Sick Building Syndrome”, and that taking antioxidants can reduce symptoms. JPOffice illness: A study has found that 50 percent of people who work in office buildings in Jakarta suffer from what is known as “Sick Building Syndrome”, and that taking antioxidants can reduce symptoms. JP After all those years of complaining that work makes you sick, it turns out you could be right. Don’t get too comfortable thinking your workplace is an airtight building, fully equipped with air conditioner, thick, regularly cleaned carpet and photocopier and fax. Things are not always what they seem. A recent study by the University of Indonesia’s Mass Health Faculty, the Indonesian Mass Health Expert Association (IAKMI) and PT Bayer Indonesia revealed that 50 percent of people who work in office buildings in Jakarta suffer from what is known as “Sick Building Syndrome”. Joko Prayitno Sutanto, a researcher with a government research agency, working out of a high-rise building in the Thamrin area, said he found he got a sore throat and cough every time he entered the building. The 49-year-old researcher – who spent up to eight hours a day at his office – said he was not sure of the cause of the headache and cough, but felt uncomfortable with the air conditioner in the building. “Apparently the air conditioner only runs from 8 a.m. so every time we enter the glass-walled building we already feel airless,” he said. Joko is not the only one who finds it all too easy to believe there is a connection between the workplace and the state of his health. Dian, 46, who works in the human resources department at a private company in a building in the Sudirman area, said she tended to feel nauseous and to tire easily, and she often had watering eyes and runny nose. “It happens almost everyday and when I get home I feel like I can do nothing at all,” said Dian, who puts in more than eight hours a day at the office. “It’s not too bad but it’s annoying because it happens almost everyday.” She also noticed that she felt better away from work. “It’s not drastically better but I feel it when I get out of the building.” Joko and Dian are two of 350 employees from 18 companies and government institutions that took part in a three-month study conducted by the University of Indonesia from September to December 2008. The 350 respondents were separated into two groups; members of one group were given antioxidant supplements while the members of the other group were not. The study discovered that 50 percent of people who work in office buildings suffer from “Sick Building Syndrome”, and that members of the group that took the antioxidants experienced a significant reduction in their illness than the group with no intervention. Taking antioxidants reduced the frequency of occurrence of four main symptoms of “Sick Building Syndrome” by up to 50 percent. Headaches were reduced by 48.9 percent, burning eyes were reduced by 45.5 percent, runny nose by 51.9 percent, bronchitis by 27.2 percent and exhaustion after normal activity by 40.8 percent. “The risk of having Sick Building Syndrome is closely related to environmental factors which become the medium for physical, chemical and biological pollutants and radiation, especially when we face relatively constant exposure,” said research coordinator Budi Haryanto. Haryanto said that Sick Building Syndrome became widely known in Hong Kong and Singapore in the 1990s through research. “Now they have become very advanced in managing the indoor air quality, but we have never before conducted this kind of study on indoor air quality,” he said. A disease known is half cured, but the Manpower and Transmigration Ministry, which is responsible for evaluating indoor air quality, never tested it, said Haryanto. “Sorry to say but the Health Ministry, which is responsible for monitoring the impact of indoor air pollution, also never did any monitoring,” said Haryanto. For years, Jakarta has been included in the World Health Organization list of the world’s most polluted cities. World Bank data from 2004 ranked Jakarta as the third most polluted city in the world. A study by the University of Indonesia, USAID and Swisscontact revealed that city transportation contributed 70 percent of the total pollution in the city. “If we look at the annual Health Profile of the Health Ministry, the top 10 diseases are related to air pollution and the total of these diseases accounted for 50 percent of diseases reported by the ministry,” said Haryanto, who is also chairman of the Environmental Health Department at the University of Indonesia’s School of Public Health. However, said Haryanto, not many know that research has frequently found that the level of air pollution indoors could be worse than the level outdoors. If building occupants complain of symptoms associated with acute discomfort, such as headaches; eye, nose or throat irritation; dry cough; dry or itchy skin; dizziness and nausea; difficulty in concentrating; fatigue; and sensitivity to odors – these might be symptoms of the syndrome. Especially if the cause of the symptoms is not known and most of the complainants report relief soon after leaving the building, it is likely that they are in a “sick” building. Causes of Sick Building Syndrome, said Haryanto, are inadequate ventilation, chemical contaminants from indoor sources, chemical contaminants from outdoor sources and biological contaminants. Inadequate ventilation, which may also occur if heating, ventilation and air conditioning systems do not effectively distribute air to people in the building, is thought to be another important factor in Sick Building Syndrome. Most indoor air pollution comes from sources inside the building, such as adhesives, carpeting, upholstery, manufactured wood products, photocopiers, air conditioners, pesticides and cleaning agents. Environmental tobacco smoke also contributes high levels of toxins and particulate matter. “Most of us spend more than eight hours a day in our office dealing with the copy machine, printer, air conditioner and carpet everyday,” Haryanto said. “Because we cannot smell the particles and dust we drag in everyday, we feel safe, but actually they cause lots of respiration problems.” The outdoor air that enters a building can be a source of indoor air pollution, as pollutants can enter the building through poorly located air vents, windows and other openings. Biological contaminants such as bacteria, mold, pollen and viruses can also be making buildings – and their occupants – sick. These can breed in any stagnant water that has collected in ducts or drains, or other places. Other sources of biological contaminants include insects or bird droppings – which can result in cough, chest tightness, fever, chills, muscle aches and allergic responses. These elements, said Haryanto, may act in combination and may supplement other complaints such as inadequate temperature, humidity or lighting. Even after a building is investigated, the specific causes of the complaints may remain unknown. Until the lack of knowledge about the syndrome among both the public and building developers and related government agencies is reversed, the first step for individuals is to reduce the impact of indoor air pollution by maintaining a healthy life – such as through antioxidant supplements, as found in the study. “The need for vitamins and antioxidant supplements is parallel and important to people living in the middle of pollution,” Haryanto said. “Especially vitamin C and E are needed for stamina.” At the moment, this may be workers’ only option. As Haryanto points out, “The key word for this syndrome is respiration. We can’t choose to breathe or not to breathe, can we?”

Sick Building Syndrome symptoms: Burning and watering eyes and nose Burning in trachea Chronic fatigue Debilitating fibromyalgia (muscle cramps and joint pain) Dizziness Dry, itchy skin Exhaustion after normal activity Headaches Heart palpitations Hoarseness, cough, sore throat Inability to concentrate Itchy granulomous pimples Nausea Nosebleeds Pregnancy problems Sensitivity to odors Serious edema (swelling of legs, trunk, ankles) Shortness of breath upon mild exertion (e.g. walking) Tremors Wellness when away from building

–> Saya copy artikel ini dari The Jakarta Post.com + baca dikorannya. Saya suka artikel ini…jaman boleh modern, teknologi yahud, tapi ini berkemungkinan besar bikin manusia manja!

Thank U ‘The Jakarta Post’

.Cheers.

Another me you barely see (and all the pent-ups)

Sabumi

Muslim Homeschooling Bandung

Sabumi

Muslim Homeschooling Bandung

Discover

A daily selection of the best content published on WordPress, collected for you by humans who love to read.

numbers exchanged

Looking for more in relationships & love

A Lot On Your Plate

A budget friendly blog (now an official website) that gives creative & practical tips, recipes, and more, to help inspire, organize, & simplify your life!

Imperfectly Perfect

“There is nothing more rare, nor more beautiful, than a woman being unapologetically herself; comfortable in her perfect imperfection...” ~ Steve Maraboli

Love, InshAllah

Fresh Perspectives on Love

%d bloggers like this: